This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, January 29, 2015

PASAR TAYU DILALAP SI JAGO MERAH

kuli tinta - Pati - Tayu, Dini hari kamis (29/01) jam 02.30 pasar tayu mengalami kebakaran. Sdr.Sukarwi yang mengetahui pertama kali melihat kejadian langsung melaporkan ke Sektor Tayu namun api sudah terlanjur membesar.

pasar dengan luas  ± 1,5 Ha (15.000 m2) dan kurang lebih 336 pedagang bakal kehilangan mata pencaharian, 

Kata Sutrisno salah satu pedagang " kebakaran dari api yg berasal dari los 18 toko sepatu milik Bpk.H.Sungkono dan diperkirakan akibat arus pendek listrik / konsleting listrik".

Dari hasil pantauan sementara tim redaksi kerugian materiil diduga sampai ratusan juta dan tidak ada korban jiwa.(sdh).

Wednesday, January 28, 2015

FRONT NELAYAN BERSATU JUWANA PATI BLOKIR PANTURA

kuli tinta - pati, (28/01) front nelayan bersatu (FNB) Juwana pati memblokir jalan pantura tepatnya di alun alun juwana kab Pati dalam aksi unra, FNB menyikapi berbagai kebijakan Pemerintah melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan yang dianggap kurang berpihak terhadap kepentingan nelayan. 

Massa FNB ± 1.000 orang tumplek blek di alun alun juwana dan tidak mau bergeser dari jalan selama beberapa menit sehingga menyebabkan arus lalin dari arah pati ke rembang membuat kemacetan.

Sdr. RASMIJAN (Ketua HNSI) dan Sdr. HADI SUTRISNO (Ketua FNB) melakukan orasi yang berisi tuntutan diantaranya :

1. Menyikapi terbitnya Permen Nomor : 56,57-KP Tahun 2014 tentang Moratorium Penghentian sementara penerbitan ijin kapal baru diatas 30 GT dan Pelarangan aktifitas bongkar di tengah laut (Transhipment).

2. Menghendaki pencabutan Perpres Nomor : 191 Tahun 2015 tanggal 31 Desember 2014 tentang Penyediaan Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM, yang didalamnya mengatur tentang penghapusan subsidi BBM untuk nelayan yang menggunakan kapal dengan ukuran 30 GT keatas.

3. Menuntut pencabutan Permen Nomor : 2- KP tanggal 8 Januari Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkap Ikan Pukat Hella (Troll) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, yang didalamnya melarang penggunaan alat tangkap jenis jaring cantrang.

4. Kaum nelayan kecewa dengan kepemimpinan Jokowi - Jk karena tidak memihak kepada para nelayan sedikitpun.

Aksi akhirnya dibubarkan aparat keamanan dari Polres Pati dan Polsek Juwana yang mengalihkan kegiatan ke terminal lama juwana.(sdh)

Saturday, January 24, 2015

AKSI SIMPATI MAHASISWA BEM STAIP "SAVE KPK DAN POLRI"

kuli tinta - pati, perseteruan antara Polri dan KPK kembali terjadi setelah KPK menyatakan Komjen pol BG menjadi tersangka dalam kasus korupsi, tidak ketinggalan di Kab Pati yang disuarakan oleh beberapa mahasiswa dalam aksinya pada hari Sabtu (24/01) pukul 09.30 s/d 10.15 yang dilakukan sambil keliling Alun - Alun Simpang Lima Pati

Kelompok Mahasiswa dari STAIP, STAIMAFA, STIMIK AKI dan PMII menyuarakan " Save KPK dan POLRI"

menurut Sdr. MULYO SEPDIANTO selaku korlap aksi " tetap  mendukung pemberantasan korupsi dan berharap Pak Jokowi, menyelamatkan Polri dan KPK"
Menampilkan aksi simpati1.jpg
Para peserta aksi  melaksanakan long march memutari Alun - Alun dengan melakukan orasi dan membentangkan poster/ pamlet serta  memperagakan replika pocong 

para mahasiswa juga berharap :
1. Tidak ingin KPK dan Polri berselisih dalam penegakan hukum di Indonesia.
2. Agar Polri dan KPK dapat menjunjung tinggi nilai keadilan di Negara Indonesia.
3. Mari kita kawal penegakan hukum di Indonesia agar dapat berjalan dengan transparan dan akuntabel.
4. Adanya penetapan status tersangka kepada Calon Kapolri dan penangkapan kepada Wakil Ketua KPK yang dinilai terdapat unsur politis.
5. Diharapkan para penegak hukum Polri dan KPK selalu netral dan menjaga supremasi hukum dalam menegakkan keadilan di Indonesia.
6. Saat ini, perlu adanya turun tangan dari Presiden RI Ir. H. JOKOWI untuk menyelesaikan permasalahan antara KPK dan Polri.

Saturday, January 4, 2014

BARANG BUKTI PENGGEREBAKAN TERORIS DI CIPUTAT


Ini barang bukti penggerebekan teroris di Ciputat

kulitinta - JAKARTA. Polri membeberkan sejumlah barang bukti yang diperoleh dari hasil penggerebekan di dua rumah kontrakan yang terletak di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (3/1/2014).
Barang-barang tersebut diduga merupakan milik enam terduga teroris yang akan digunakan untuk melancarkan aksinya di sejumlah lokasi.

“Tentu dengan melihat barang seperti ini, ini merupakan barang berbahaya untuk kehidupan masyarakat kita. Jadi kita harus melakukan langkah penegakan hukum karena kita tidak mengingingkan korban,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jumat (3/1/2014).

Dari sejumlah barang bukti yang disita petugas, Boy mengatakan, ada sejumlah rangkaian bom pipa baik yang terbuat dari besi maupun pipa paralon PVC yang ditemukan saat penggerebekan di sebuah rumah rumah kontrakan di Gang Hasan, Jalan KH Dewantoro, Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (31/12/2013).

Selain itu, polisi juga menemukan sejumlah senjata api dan senjata tajam dalam penggeledahan. Di rumah kontrakan milik Hidayat Dayat Kacamata di Jalan Delima Jaya, Kampung Setu Nomor 69, RT 008 RW 02, Kelurahan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, polisi menemukan bahan baku yang diduga untuk pembuatan bom.

“Kita juga menemukan tulisan tangan pada sobekan koran tertanggal 30 Juni 2013 yang berisi rencana jihad,” ujarnya. Sebelumnya, dalam penggerebekan di Kampung Sawah, enam orang terduga teroris tewas setelah sempat baku tembak dengan tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.

Keenam terduga teroris itu adalah Hidayat alias Dayat Kacamata, Fauzi alias Fahrozi, Nurul Haq alias Jeck, Rizal Alif Makmur alias Agung Primus alias Primus, Hendi Albar, dan Mr X yang diduga Edo.

Berikut ini barang bukti yang disita polisi:

Bahan Pembuat Bom

Kendaraan Bermotor
BPKB Honda B 6128 NLX
BPKB Suzuki B 6395 KLB
BPKB Honda B 5951 VG
BPKB dan STNK Honda B 6597 NHI
STNK Honda B 6882 TN
Empat unit sepeda motor (di Polda Metro Jaya)

4 buah kacamata
Lain-lain
1 buah senter 3 lempeng casing SN 1 buah kompas 3 audio player 1 buah flashdisk 1 GB Uang tunai Rp 235.731.300 9 tas ransel berbagai merek 3 buah sebo warna hitam 11 tas pinggang berbagai merek Tali pramuka warna putih 2 buah sarung tangan 1 buah kartu perdana Simpati yang terdapat lem besi KTP Kota Bandung, Jawa Barat  a.n. Ma’mun Haris KTP Kota Bima, NTB a.n. Abdullah Mustaqim KTP Kota Bima, NTB a.n. Julfikar 1 buah karung bertuliskan Pos Indonesia warna oranye  (kontan.co.id)

Friday, December 13, 2013

Wakapolri: Budaya setoran sudah tidak ada


Wakapolri: Budaya setoran sudah tidak ada

Kulitinta.com - JAKARTA. Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol Oegroseno menampik bila budaya setoran terhadap atasan di Polri masih ada.

"Kalau menurut saya sudah nggak ada. Kalau masih ada kebangetan lah," ujar Oegroseno seusai menjadi narasumber dalam diskusi Antikorupsi dalam acara KPK Fair di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (11/12) yang dihadiri Wakapolri Komjen Pol Oegroseno, dan Ketua Pukat UGM Zainal Moechtar Arifin, dan mantan Sekretaris Hoegeng, Soedharto.

Dikatakan Oegro, bahwa budaya setor menyetor sudah di larang, sehingga ia memastikan sudah tidak ada lagi budaya bawahan setoran ke atasan di Polri. "Sudah dilarang kok masih mau setoran, nggak ada lah, setoran setiran nggak ada, kalau setoran setiran nggak ada yang nyetir-nyetir nggak ada," ujarnya.

Ia pun mengibaratkan bahwa seekor keledai bila budaya setoran masih ada di tubuh Polri. "Dari dulu kan sudah dilarang, kalau masih ada ya mereka mungkin keledainya ngga minta setorannya, atasan keledai minta lagi sama bawahannya keledai, kalau manusia masih ada, ya harusnya dibawah keledai saja," jelasnya.

Sebelumnya Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menyindir kepada polisi kalau masih ada budaya setoran kepada atasan (kontan.co.id)

Abraham: Koruptor seperti pembunuh berdarah dingin


Abraham: Koruptor seperti pembunuh berdarah dingin

Kulitinta.com - JAKARTA. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad sebut pejabat negara yang melakukan korupsi sama dengan pembunuh berdarah dingin. Dia bilang, korupsi itu salah satu penyebab banyak masyarakat hidup dibawah garis kemiskinan.

Abraham Samad mengatakan, pejabat tinggi seperti kepala daerah maupun kepala lembaga pemerintah sudah menerima gaji yang cukup. Jika sang pejabat masuk melakukan korupsi, Abraham Samad menyebut hal itu sebagai keserakahan.

Ia menyebutkan, suatu daerah di mana masyarakatnya banyak yang makan nasi aking. Bahkan anak-anak untuk menuju ke sekolah harus meniti jembatan hancur yang melintang di atas sungai deras. Abraham tidak menyebut nama lokasi itu, namun kasus jembatan rusak itu sempat marak di Provinsi Banten, yang kasus korupsinya sedang ditangani KPK.

"Bayangkan ada gubernur keluarganya mewah, mobilnya banyak. Warganya makan nasi aking. Anak sekolahnya menyebrang sungai menantang maut. Orang ini sebenarnya pembunuh berdarah dingin," kata Abraham dalam acara Refleksi Akhir Tahun Pekan Politik Kebangsaan, di kantor International Confrence of Islamic Scholars (ICIS), di Matraman, Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2013),

Abraham Samad menyebut pejabat semacam itu tidak bisa dimaafkan, karena korupsi yang dilakukan karena mental sang pejabat yang tamak

Ia mencontohkan dengan kasus Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini. Kata Abraham, gaji Rudi di SKK Migas mencapai sekitar Rp 230 juta per bulan.

Belum lagi gaji Rudi dari Bank Mandiri yang mencapai Rp 80 juta per bulan. Dengan total gaji sekitar Rp 300 juta per bulan, Rudi tertangkap basah menerima suap dari pengusaha minyak.

"Artinya dia tamak, dia tidak peduli orang lain. Integritasnya hancur. Kalau ada pejabat korupsi, treatmennya orang ini harus dihukum mati," ujarnya.

Dalam kesempatan itu ia juga mengatakan sempat ada seorang kepala daerah yang "curhat" karena gajinya kecil. Abraham mengaku langsung menghardik sang pejabat karena selain gaji seorang pejabat juga menerima tunjangan yang luar biasa, bahkan mengganti tirai rumah pun juga dianggarkan pemerintah.

Kasus pejabat dengan gaji tinggi, kata Abraham Samad, tidak bisa disamakan dengan korupsi pejabat bergaji rendah. Ia mencontohkan bila seorang pegawai keluarhan bergaji Rp 3 juta perbulan mengambil pungutan liat (pungli) dari setiap orang yang mengurus KTP sebesar Rp 5 ribu rupiah, tidak bisa disamakan hukumannya dengan pejabat tinggi.

"Bayangkan gaji 3 juta untuk biayai anak tiga, dan sekolah semua. Tidak cukup. Jika PNS korupsi karena negara tidak hadir, treatmennya berbeda, tidak boleh dihukum mati," ujarnya (kontan.co.id)

Kapolri: Situasi politik makin memanas


Kapolri: Situasi politik makin memanas

Kulitinta.com - JAKARTA. Kekhawatiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang ancaman gerakan-gerakan yang bisa mengacau Pemilu 2014 diterjamahkan Kapolri Jenderal Pol Sutaraman sebagai suasana politik yang semakin memanas.

"Ini tahun politik, suasana politik semakin memanas meningkat sehingga perlu pengaman-pengamanan dari awal sehingga masyarakat itu bisa tenang," kata Sutarman di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (13/12).

Dikatakannya situasi yang tenang saat Pemilu nanti akan berdampak terhadap terpilihnya pemimpin-pemimpin yang berkualitas di republik ini.

"Kalau tenang dia akan memilih secara jernih berdasarkan hati nuraninya untuk memilih wakil-wakilnya yang ada di DPR maupun Presiden dan wakil Presiden dengan tenang tidak ada intimidasi," ungkapnya.

Presiden SBY dalam jumpa persnya di Bandara Halim Perdanakusumah menyatakan kekhawatirannya terhadap gerakan beberapa elemen yang diduga akan melakukan gangguan keamanan dan ketertiban menjelang Pemilu 2014.

Hal tersebut didasarkan atas laporan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman. Dalam kesempatan tersebut SBY mengimbau kepada seluruh elite politik untuk bisa  menahan diri selama kampanye supaya situasi aman bisa tercipta. (kontan.co.id)